Jumat, 22 Maret 2013

Makalah Teori Organisasi Umum Perilaku Produsen

Kelompok  3:
  • Annisa Mayliani

  • Dani Suryanto

  • Dwiki

  • Herbin

  • Muhammad Ritohfani

  • Rizki Mahardi

  • Syahrial Amri

2 ka19

Sistem Informasi


PENDAHULUAN

       Dalam organisasi perusahaan kita tidak akan bisa lepas dari ruang lingkup ekonomi karena salah satu tujuan perusahaan teresebut didirikan adalah agar mendapatkan suatu keuntungan dalam segi ekonomi, oleh karena itu perilaku produsen adalah salah satu ruang lingkup ekonomi yang patut kita pelajari agar tujuan dari organisasi perusahaan dapat terpenuhi.

     Salah satu bagian dari ruang ekonomi adalah mempermasalahkan kemampuan produsen, pada saat menggunakan sumber daya (input) yang ada untuk menghasilkan atau menyediakan produk yang bernilai maksimal bagi konsumennya.

         Pembahasan tentang perilaku produsen inilah yang kemudian diangkat sebagai tema untuk melihat sejauh mana sebuah perusahaan dalam memproduksi kebutuhan konsumen-konsumennya. Sehingga kendala pada pengambilan keputusan seberapa banyak peralatan produksi dan jumlah tenaga kerja untuk memenuhi permintaan konsumen-konsumennya.

PERILAKU PRODUSEN

 

Produsen dan Produksi

          Produsen adalah orang atau kelompok yang memproduksi barang yang nantinya akan dijual kepada konsumen. sedangkan Produksi adalah usaha untuk menciptakan dan meningkatkan kegunaan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan. Dengan pengertian lain Produksi merupakan konsep arus (flow consept), bahwa kegiatan produksi diukur dari jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan  dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan tidak berubah.

Terdapat dua macam faktor produksi yaitu faktor produksi asli dan faktor produksi turunan:

1. Faktor produksi asli

Yang termasuk faktor produksi asli antara lain sebagai berikut :

  • Alam. Contohnya : tanah, air, udara, sinar matahari, tumbuh – tumbuhan, hewan, barang tambang.

  • Tenaga kerja. Tanpa adanya tenaga kerja, sumber daya alam yang tersedia tidak akan dapat dirubah atau diolah menjadi barang hasil produksi.

2. Faktor produksi turunan

Yang termasuk faktor produksi turunan adalah modal dan keahlian (skill).

Fungsi Produksi

          Fungsi produksi merupakan interaksi antara masukan (input) dengan keluaran (output). Misalkan kita memproduksi jas. Dalam fungsi produksi, jas itu bisa diproduksi dengan berbagai macam cara. Kalau salah satu komposisinya diubah begitu saja, maka hasilnya juga akan berubah. Namun, output dapat tetap sama bila perubahan satu komposisi diganti dengan komposisi yang lain. Misalnya penurunan jumlah mesin diganti dengan penambahan tenaga kerja.

           Sebuah usaha produksi baru bisa bekerja dengan baik bila dijalankan oleh produsen atau yang sering kita sebut pengusaha. Pengusaha adalah orang yang mencari peluang yang menguntungkan dan mengambil risiko seperlunya untuk merencanakan dan mengelola suatu bisnis.

           Pengusaha berbeda dengan pemilik bisnis kecil ataupun manajer. Bila hanya memiliki sebuah usaha dan hanya berusaha mencari keuntungan, maka orang itu barulah sebatas pemilik bisnis.

             Bila orang itu hanya mengatur karyawan dan menggunakan sumber daya perusahaan untuk usaha, maka orang itu disebut sebagai manajer. Pengusaha lebih dari keduanya. Pengusaha berusaha mendirikan perusahaan yang menguntungkan, mencari dan mengelola sumber daya untuk memulai suatu bisnis.

Pola Perilaku Produsen

           Seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan:

1) berapa output yang harus diproduksikan, dan

2) berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.

Untuk menyederhanakan pembahasan secara teoritis, dalam menentukan keputusan tersebut digunakan dua asumsi dasar:

1) bahwa produsen atau pengusaha selalu berusaha mencapai keuntungan yang maksimum,

2) bahwa produsen atau pengusaha beroperasi dalam pasar persaingan sempurna.

Ada 2 macam perilaku produsen, yaitu perilaku yang cerdas dalam berbisnis dan menguntungkan dan perilaku produsen yang kurang memiliki kemampuan sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain

perilaku yang menguntungkan :

  • Produsen yang memiliki keahlian pengusaha, berperilaku profesional sehingga mampu menciptakan hasil produksi yang sesuai dengan kebutuhan dan daya beli masyarakat

  • Mampu meningkatkan produksi dengan menentukan komposisi faktor-faktor produksi yang dapat meminimumkan biaya.

  • Berusaha dan mampu memperoleh keuntungan maksimal yang digunakan antara lain untuk meningkatkan dan masyarakat di sekitar perusahaan.

  • Menggunakan keuntungan perusahaan untuk memperluas usaha.

  • Patuh membayar pajak.

  • Mampu mengolah limbah perusahaan, sehingga tidak menimbulkan pencemaran.

perilaku yang merugikan :

  • Tidak memiliki keahlian pengusaha.

  • Fungsi-fungsi pengusaha, seperti penerapan fungsi manajemen planning, organizing, actuating and controlling tidak efektif dan terjadi pemborosan.

  • Biaya produksi lebih besar dari hasil penjualan, sehingga perusahaan menderita kerugian

  • Pajak tidak dibayar

  • Perolehan kredit dari bank tidak digunakan untuk menyehatkan perusahaan, tetapi digunakan untuk kepentingan pribadi.

  • Limbah industri perusahaan mencemari sungai dan udara sekitarnya.

Masalah Yang Dihadapi Produsen

  1. Barang apa yang harus diproduksi (what?).

  2. Bagaimana barang tersebut diproduksi (why?)

  3. Untuk siapa barang tersebut diproduksi (what for?).

Contoh masalah yang dihadapi Produsen

  1. KELANGKAAN

Kelangkaan adalah suatu keadaan dimana sumber daya yang tersedia kurang dari jumlah yang dibutuhkan atau sumber daya tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ada.
Kelangkaan atau biasa juga disebut Scarcity merupakan inti masalah ekonomi.
Faktor yang menjadi penyebab terjadinya kelangkaan adalah :

1. terbatasnya jumlah sumber daya alam atau factor alam
2. banyaknya SDA yang rusak atau kerusakan lingkungan
3. keterbatasan teknologi dan kemampuan manusia dalam mengolah SDA
4. jumlah penduduk atau peningkatan kebutuhan manusia lebih cepat dari peningkatan  ketersediaan alat pemenuhan kebutuhan

Usaha untuk mengatasi kelangkaan :

1. penghematan dalam pemakaian
2. meningkatkan pengetahuan
3. menciptakan alat pemenuhan kebutuhan pengganti
4. memelihara SDA yang ada

Cara mengatasi kelangkaan

Dalam kehidupan ekonomi sehari-hari , terdapat beberapa permasalahan yang mendasar dan harus dicarikan jalan keluarnya atau solusinya. Solusi yang ada untuk mengatasi hal ini, kita membutuhkan system ekonomi yang tepat dan sesuai dengan kondisi permasalahan ekonomi yang ada.
Sistem ekonomi adalah perpaduan dari peraturan atau cara-cara yang merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam perekonomian.

 2.     Pengaruh mekanisme harga

     Krisis finansial global yang terjadi sejak akhir tahun 2007 telah menyebabkan perlambatan ekonomi global secara bertahap. Diperkirakan daya beli masyarakat menurun.  Banyak pihak mengatakan bahwa krisis hanya terjadi pada negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.  Namun perlu diingat bahwa sebagian besar negara yang kekuatan pasarnya sedang tumbuh (energing market) menguasai 60% pangsa pasar ekspor ke Amerika Serikat dan negara-negara maju.  Karena itu, jika terjadi penurunan permintaan, pasti akan berdampak terhadap permintaan barang-barang dari negara-negara yang sedang tumbuh (emerging countries). Tentu hal ini akan berakibat pada menurunnya kinerja berbagai sektor usaha, khususnya industri.

          Harapan untuk segera terlepas dari himpitan krisis ekonomi yang terjadi sejak akhir tahun 2007 nampaknya bukan merupakan sesuatu yang berlebihan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator ekonomi, seperti tingkat suku bunga perbankan yang terus menurun, menyesuaikan suku bunga SBI, inflasi yang semakin terkendali serta transaksi di bursa efek yang semakin bergairah. Kondisi tersebut setidaknya dapat ditangkap sebagai sinyal bahwa Indonesia sudah mulai memasuki tahap recovery atau kebangkitan. Contoh faktor lain yang mempengaruhi dan sekaligus menentukan tingkat prosentase pemulihan ekonomi dan tingkat suku bunga bank, inflasi serta kondisi bursa efek pada umumnya dapat dijadikan sebagai barometer.

STUDY KASUS

 1.     STUDY KASUS TENTANG PENARIKAN MOBIL HONDA DAN TOYOTA DI SELURUH DUNIA

Baru denger berita nih katanya gara2 seorang balita tewas di Afrika Selatan, 171 ribu Honda Jazz di Inggris ditarik dari peredaran. Indonesia gak mau narik Honda nya dengan alasan produksi dilakukan di Indonesia.

Penyebab tewasnya balita adalah karena tombol di jendela bisa menimbulkan api ketika bersentuhan dengan air dan menyebabkan hubungan pendek.  Selain itu Toyota jenis Camry juga dikatakan bermasalah, ada 19 kasus kematian di Amrik gara2 pedal gas masih tetep jalan padahal kaki udah ditarik

Honda akan menarik seluruh mobil Jazz yang diproduksi tahun 2001 sampai 2008. Honda menyatakan, terdapat kesalahan produksi yang bisa memicu kebakaran.

Keputusan penarikan ini muncul setelah sebuah Honda Jazz yang terbakar merenggut nyawa seorang balita berusia dua tahun bernama Vanilla Nurse di Afrika Selatan. Honda Inggris lalu mengeluarkan kebijakan menarik 171 ribu Jazz yang ada di negeri itu.

Honda Inggris, seperti diberitakan timesonline.co.uk, Jumat 29 Januari 2010, menyatakan akan menghubungi seluruh pemilik Honda Jazz. Honda menyatakan, tombol jendela di mobil itu bisa mengakibatkan hubungan pendek dan menimbulkan api jika terkena air. Kondisi ini kemungkinan besar berdampak atas 646 ribu Honda Jazz di seluruh dunia.

Penarikan ini muncul di saat pengguna Toyota juga dikhawatirkan dengan sejumlah kasus kematian karena kesalahan produksi. Di Amerika Serikat, muncul 19 laporan kematian akibat pedal gas Toyota terus tertekan sementara pengendara sudah menarik kakinya.

Kesimpulan :

            Seorang produsen dalam menghadapi situasi tersebut haruslah mempunyai tanggung jawab yang tinggi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada . seorang produsen juga harus dapat menanggung resiko yang ditimbulkan dari produknya dan harus tetap mengutamakan kepentingan dan kepuasan konsumennya.

            Tindakan untuk menarik produknya dari pasaran yang dilakukan oleh Honda dan Toyota terbilang tepat. Karena mereka harus segera memperbaiki permasalahan yang telah terjadi dan harus mampu memberikan kepercayaan kepada konsumen terhadap produknya dengan membuktikan terhadap produk mereka yang tidak hanya mempunyai kualitas namun juga kuantitas yang baik.

 2.     Persaingan produsen Apple VS Samsung.

Pada zaman sekarang ini banyak sekali persaingan-persaingan antara produsen-produsen. Baik itu persaingan dari elektronik, bahan makanan seperti biskuit dll. Sebagai contoh yang sedang marak yaitu produk dari elektronik, Samsung. Produsen Samsung ini tidak ada berhentinya dalam membuat produk baru dari Samsung .  Namun Samsung juga memiliki banyak sekali saingan. Sebenarnya pada awalnya, Apple yang sedang merajai pasar global saat ini, akan tetapi samsung tidak mau mengalah dalam persaingan tersebut.

Deskripsi masalah

Dalam persaingan Apple dan Samsung ini , salah satu dari pihak apple mengajukan gugatan pada salah satu produk dari Samsung, yaitu pada Galaksi Tablet 10.1N. Gugatan dari Apple ini yaitu menggangap bahwa Samsung telah menjiplak karya dari iPad dan melanggar hak paten dari Apple. Sebenarnya, gugatan dari pihak Apple ini sudah dilakukan di Eropa, akan tatapi kemenangan atas gugatan Apple ke Samsung hanya berlaku di German.

 

3.     Penggunaan bahan Kimia berbahaya kedalam makanan

          Bahan kimia dalam makanan dapat masuk ke dalam makanan yang kita konsumsi dengan dua cara. Yang pertama adalah bahan kimia tersebut memang dengan sengaja ditambahkan dalam proses pembuatan dengan tujuan tertentu. Sebagai contoh adalah penggunaan bahan kimia pewarna tekstil untuk memperbaiki penampilan makanan.

     Yang kedua, bahan kimia dalam makanan bisa juga berasal dari sisa bahan kimia atau berasal dari kemasan (food contaminants). contohnya. Pestisida adalah bahan kimia beracun yang biasa digunakan petani untuk melindungi tanaman dari serangan hama.  Pada saat hasil tanaman dipanen, sisa pestisida masih tetap ada. Dan kemungkinan besar masih akan tetap ada meskipun telah dicuci dengan menggunakan air dan masuk ke dalam tubuh ketika kita konsumsi.

          Nah, yang mau kami bahas disini adalah bahan kimia yang dengan memang dengan sengaja ditambahkan selama proses produksi oleh produsen nakal yang tentu saja mempunyai modus atau tujuan tertentu.  berikut adalah contoh bahan kimia berbahaya yang biasanya digunakan produsen sebagai campuran ke dalam makanan : Sakarin(Saccharin),  Siklamat (Cyclamate), Nitrosamin, Monosodium Glutamat(MSG), Rhodamin B, Metanil Yellow, Formalin, Boraks, Acrylamide, Bisphenol A (BPA) DLL.  Larangan penggunaan bahan berbahaya itu tercantum di Peraturan Menteri Kesehatan nomer: 722/ Menkes/ Per/ IX/ 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan.

Penyebab produsen menggunakan zat kimia pada makanan

            Karena dikalangan masyarakat banyak produsen yang menggunakan bahan kimia yang sangat berbahaya yang terkandung dalam makanan yang dijual,hal tersebut karena lebih praktis dan lebih murah sehingga tidak membutuhkan modal yang besar.  Kebanyakan dari mereka tidak mengerti dosis dan bahaya dari bahan kimia tersebut apabila digunakan tidak sesuai dengan takarannya.  Setiap orang yang memproduksi pangan dengan menggunakan bahan tambahan pangan untuk diedarkan wajib menggunakan bahan tambahan pangan yang diizinkan.

          Namun mereka hanya mementingkan keawetan atau kecantikan makanan tersebut, sehingga laris di pasaran dan mendapatkan untung yang besar .  mereka tidak tahu akibat dari pemakaian bahan kimia tersebut yang tidak sesuai dengan dosisnya.  Lebih parahnya lagi sebagian produsen melakukan hal tersebut untuk agar pembeli ketagihah akan citra rasa yang ditimbulkan bahan kimia berbahaya tersebut.

            Para produsen makanan sebenarnya bisa saja menggunakan bahan tambahan pangan yang alami. Namun, rupanya mereka tidak percaya diri dan keterbatasan modal.  Selain itu karena produsen ingin meningkatkan citra rasa, menambah ketahanan, juga dapat menghambat kerusakan makanan yang diakibatkan oleh bakteri atau sejenisnya. 

Cara menghindari makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya

  • melihat kondisi kemasan makanan itu sendiri. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, jangan membeli makanan yang kemasan nya sudah rusak, kusam, berkarat, penyok, robek, terbuka, dll. Makanan dengan kondisi demikian bisa menyebabkan keracunan.

  • Jangan mudah tergiur dengan promosi makanan yang menawarkan harga yang cukup murah. Anda tentu semestinya bertanya-tanya mengapa makanan yang demikian lezat dapat dijual dengan harga murah. Bisa jadi, ada zat berbahaya yang ditambahkan pada makanan tersebut. Meskipun demikian, harga mahal juga tidak menjamin keamanan suatu produk. Lebih baik, periksalah label kemasan terlebih dahulu.

  • jangan lupa untuk memeriksa tanggal kadaluwarsa sebelum membeli.

  • memeriksa label kemasan produk yang akan dibeli. Pemeriksaan ini meliputi melihat kandungan makanan, bahan pembuatannya, nama produk, nama produsen dan alamatnya, masa kadaluwarsa, dan berat bersih. Anda juga perlu memastikan bahwa produk tersebut sudah memiliki izin dari depkes atau pun BPOM.

  • berhati-hatilah jika terjadi perubahan rasa, warna, atau perubahan bentuk pada makanan yang terdapat di dalam kemasan. Misalnya saja, bau dan rasanya tidak sedap.

Solusi menurut kelompok kami:

  • melakukan penyuluhan dan sosialisasi ke pelaku usaha, pedagang makanan, sekolah-sekolah termasuk murid dan guru terkait panganan yang mengandung bahan kimia berbahaya.

  • mengawasi dan memeriksa panganan yang beredar seharusnya dilakukan oleh Badan POM di setiap propinsi Bekerjasama dengan lintas sektor untuk mengawasi makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Mulai dari pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan setempat. Bila ditemukan bahan makanan yang mengandung berbahaya langsung disosialisasikan.

  • Mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dan para produsen atau pelaku usaha, terutama bagi produsen kecil demi terbentuknya  masyarakat yang cerdas dan peduli akan makanan yang sehat.

  • Memberi sanksi bagi pelaku usaha ataupun produsen makanan yang terbukti memasukkan bahan kimia berbahaya pada makanan. Sebagaimana Hal tersebut tercantum dalam UU Kesehatan dan Perlidungan konsumen. Pidana penjara 5 tahun dan denda maksimal 600 juta.

Penutup

 

          Kami mengambil study kasus diatas karena berkaitan dengan tema yang kami bawakan tentunya, dan karena masalah-masalah real ini sedang terjadi atau sedang marak dibicarakan sehingga makalah ini bisa diterima.  Kami harap makalah kami dapat menjawab pertanyaan atau polemik yang ada saat ini melalui pembahasan yang kami pilih.

          Sekian makalah Perilaku Produsen ini, kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna jadi kami mohon maaf jika ada kesalahan atau kekeliruan dan kami mohon untuk kritik dan sarannya yang membangun bagi kelompok kami mengenai makalah ini.  Terima Kasih.

     Depok,  maret 2013

     Penulis

Referensi :

http://www.anneahira.com/bahan-kimia-makanan.htm

http://ahmadcirebon.blogspot.com/2012/06/perilaku-produsen_05.html

http://blog-byrina.blogspot.com/2012/04/perilaku-produsen.html

http://almaidahsofyanaa.blogspot.com/2012/04/pola-perilaku-produsen.html

http://chandrapamungkas.wordpress.com/2011/04/03/pengertian-masalah-pokok-ekonomi-dan-sistem-perekonomian/

http://izaar.wordpress.com/2011/03/09/masalah-pokok-dalam-ekonomi-cara-mengatasinya/

http://gopego.com/info/artikel-pemasaran-galaxy-tab

http://blog.pelapak.com/promosi-makanan.html#.UUm-ulfS35c

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CC4QFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.anneahira.com%2Fbahan-kimia-makanan.htm&ei=8rdJUamhEczNrQeB6IHICQ&usg=AFQjCNHWVgkK8k8lJ9-IPbQkFjl6y511KA&bvm=bv.44011176,d.bmk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar