Budi Suyanto, kelahiran 5 September
1973 itu biasa dipanggil “Sammy”. Pria yang sudah berkelurga dan berkediaman di
Saharjao – Tebet, Jakarta Selatan, memiliki satu buah hati yang bernama Merah.
Bang Sam, begitu akrabnya dengan mahasiswa, adalah seorang dosen di salah satu
perguruan tinggi negeri di Jakarta yang hobi fotografi dan menyukai musik power
metal seperti Hellowen dan Iron Maiden.
Inilah Sammy, pribadi yang santai,
konkret, dan peka, ditunjukkannya dari banyak hal. Sammy Suyanto pernah bekerja
di bidang advertising yang termasuk
banyak keuntungannya dan ternyata karena alasan dia tidak menyukai kerja
kantoran dan tidak santai, dia berhenti. Lalu, ia merupakan salah satu aktivis atas
tragedi 1998 saat menjadi mahasiswa Trisakti silam. Tanggapan Sammy mengenai
perang SARA atau agama pun pernah dilontarkannya yaitu sejarah adalah yang mengajarkan kepada kita
bahwa satu kata, Tuhan, telah membunuh ratusan juta umat manusia jauh lebih
besar dari bencana alam manapun. Jelas, ia menolak adanya banyak kontra
mengenai perbedaan juga keyakinan.
Sempat ia berkata mengenai KTP (Kartu
Tanda Penduduk), untuk lebih baiknya tidak diadakannya identitas agama.
Menurutnya itu tidak adil, mengapa agama atau kepercayaan dijadikan identitas
penting sedangkan itu malah sering dan dewasa ini menjadi pembatas atau
memperbeda-bedakan kita. Seperti realitanya, Sammy Suyanto adalah nasrani yang
sudah menjadi mualaf. Hebatnya, itu
bukan karena perempuan yang akan dinikahinya kelak, tetapi memang menjadi
pilihan hidupnya. Ya, seorang Sammy mempercayai quote “Hidup adalah pilihan.”. Ternyata pun, seorang istrinya
adalah non-islam, juga anaknya. Sammy adalah satu-satunya muslin di rumahnya.
Dan sampai sekarang ia membuktikan tidaknya agama atau kepercayaan membedakan
dalam kesatuan. Mereka tetap rukun mengenai agama.
Pada saat pertama ia memasuki sekolah
desain, ia mencanangkan cita-citanya: memiliki buku, membuat pameran karya
sendiri, mendapat penghargaan atas karyanya minimal tingkat nasional, dan
setelah 5 tahun lulus kemudian cita-cita itu berhasil didapatnya, dialami nyata. Begitulah jalan impian jangka
pendeknya. Di dalam pencapaiannya pun ia harus menikmatinya. Itulah menurutnya, impian itu harus selalu
ada, harus diperjuangkan, dan menikmatinya adalah sebuah keharusan. Keberhasilan
adalah urusan Yang Maha Kuasa. Yang penting kita mengejar dan menikmati
cita-cita atau impian kita sendiri itu. Karena menikmati hidup pun adalah
impian utamanya juga.
Terbukti, selain bekerja sebagai
dosen di PNJ (Politeknik Negeri Jakarta)
ia juga mengabdi pengajaran di berbagai perguruan tinggi seperti: Sekolah
Tinggi Desain Interstudy, Sekolah Tinggi Ekonomi Interstudy, Universitas Tama
Jagakarsa, Sekolah Tinggi Media Komunikasi Trisakti, Universitas Pendidikan
Veteran. Selain ia menikmati hidup bersama mahasiswa-mahasiswi ia pun merupakan
pekerja di Mobilink Media dan sekedarmusik.com sembari sekarang
melanjutkan study-nya di Stikom Interstudy.
Itu terus berjalan dan dinikmatinya seperti
karya-karya selanjutnya, di tahun ini. Bocorannya, karyanya ini kurang lebih
sudah setengah jalan. Ia dibantu oleh orang-orang kepercayaannya,
mahasiswa-mahasiswinya, kerabatnya, model atau peraga atau objek dalam salah
satu karyanya, dan tentu keluarganya. Pameran itupun akan dilakanakan di
beberapa tempat. Beberapa itu akan diadakan di kampus-kampus yang menjadi
tempatnya mengais rezeki dan berbagi ilmu. Semua berkat motivator-motivatornya
yaitu orang yang memerlukan dia, atau orang yang buat dia merasa kehadirannya
berguna atau dinantikan. Dengan terus memegang kata saktinya “Hidup adalah
perjuangan, dan perjuangan adalah mewujudkan kata-kata.”, Sammy akan segera
mewujudkannya salah satu list
pencapaian yang ia inginkan di hidupnya ini, cita-citanya, pameran karya-karya
dari sepasang tangan dingin dan buah-buah pemikiran Budi “Sammy” Suyanto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar