Sabtu, 11 Mei 2013

Desainer Sederhana Mampu Menggelar Pameran



Budi Suyanto, kelahiran 5 September 1973 itu biasa dipanggil “Sammy”. Pria yang sudah berkelurga dan berkediaman di Saharjao – Tebet, Jakarta Selatan, memiliki satu buah hati yang bernama Merah. Bang Sam, begitu akrabnya dengan mahasiswa, adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta yang hobi fotografi dan menyukai musik power metal seperti Hellowen dan Iron Maiden.
Inilah Sammy, pribadi yang santai, konkret, dan peka, ditunjukkannya dari banyak hal. Sammy Suyanto pernah bekerja di bidang advertising yang termasuk banyak keuntungannya dan ternyata karena alasan dia tidak menyukai kerja kantoran dan tidak santai, dia berhenti. Lalu, ia merupakan salah satu aktivis atas tragedi 1998 saat menjadi mahasiswa Trisakti silam. Tanggapan Sammy mengenai perang SARA atau agama pun pernah dilontarkannya yaitu  sejarah adalah yang mengajarkan kepada kita bahwa satu kata, Tuhan, telah membunuh ratusan juta umat manusia jauh lebih besar dari bencana alam manapun. Jelas, ia menolak adanya banyak kontra mengenai perbedaan juga keyakinan.
Sempat ia berkata mengenai KTP (Kartu Tanda Penduduk), untuk lebih baiknya tidak diadakannya identitas agama. Menurutnya itu tidak adil, mengapa agama atau kepercayaan dijadikan identitas penting sedangkan itu malah sering dan dewasa ini menjadi pembatas atau memperbeda-bedakan kita. Seperti realitanya, Sammy Suyanto adalah nasrani yang sudah menjadi mualaf. Hebatnya, itu bukan karena perempuan yang akan dinikahinya kelak, tetapi memang menjadi pilihan hidupnya. Ya, seorang Sammy mempercayai quote “Hidup adalah pilihan.”. Ternyata pun, seorang istrinya adalah non-islam, juga anaknya. Sammy adalah satu-satunya muslin di rumahnya. Dan sampai sekarang ia membuktikan tidaknya agama atau kepercayaan membedakan dalam kesatuan. Mereka tetap rukun mengenai agama.
Pada saat pertama ia memasuki sekolah desain, ia mencanangkan cita-citanya: memiliki buku, membuat pameran karya sendiri, mendapat penghargaan atas karyanya minimal tingkat nasional, dan setelah 5 tahun lulus kemudian cita-cita itu berhasil didapatnya,  dialami nyata. Begitulah jalan impian jangka pendeknya. Di dalam pencapaiannya pun ia harus menikmatinya.  Itulah menurutnya, impian itu harus selalu ada, harus diperjuangkan, dan menikmatinya adalah sebuah keharusan. Keberhasilan adalah urusan Yang Maha Kuasa. Yang penting kita mengejar dan menikmati cita-cita atau impian kita sendiri itu. Karena menikmati hidup pun adalah impian utamanya juga.
Terbukti, selain bekerja sebagai dosen di PNJ (Politeknik Negeri Jakarta)  ia juga mengabdi pengajaran di berbagai perguruan tinggi seperti: Sekolah Tinggi Desain Interstudy, Sekolah Tinggi Ekonomi Interstudy, Universitas Tama Jagakarsa, Sekolah Tinggi Media Komunikasi Trisakti, Universitas Pendidikan Veteran. Selain ia menikmati hidup bersama mahasiswa-mahasiswi ia pun merupakan pekerja di Mobilink Media dan sekedarmusik.com sembari sekarang melanjutkan study-nya di Stikom Interstudy.
Itu terus berjalan dan dinikmatinya seperti karya-karya selanjutnya, di tahun ini. Bocorannya, karyanya ini kurang lebih sudah setengah jalan. Ia dibantu oleh orang-orang kepercayaannya, mahasiswa-mahasiswinya, kerabatnya, model atau peraga atau objek dalam salah satu karyanya, dan tentu keluarganya. Pameran itupun akan dilakanakan di beberapa tempat. Beberapa itu akan diadakan di kampus-kampus yang menjadi tempatnya mengais rezeki dan berbagi ilmu. Semua berkat motivator-motivatornya yaitu orang yang memerlukan dia, atau orang yang buat dia merasa kehadirannya berguna atau dinantikan. Dengan terus memegang kata saktinya “Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan adalah mewujudkan kata-kata.”, Sammy akan segera mewujudkannya salah satu list pencapaian yang ia inginkan di hidupnya ini, cita-citanya, pameran karya-karya dari sepasang tangan dingin dan buah-buah pemikiran Budi “Sammy” Suyanto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar